Kegiatan

Indeks:

  • 2018 – Juni: Seminar – “Coping with Life Journey”
  • 2018 – Agustus: Academic Discussion – “My Friend has Depression, What Should I Do?”
  • 2018 – Maret: Academic Discussion – “Handling Personal Problems in Healthy Ways”
  • 2017 – Desember: The 5th Asia Pacific Rim International Counselors and Psychotherapists
  • 2017 – Juli: Academic Discussion – “Life after College”
  • 2017 – Maret: Seminar – “Suicide is not an Option”
  • 2016 – November: Academic Discussion – “Work Life Balance”
  • 2016 – Agustus: Seminar – “Unmasking Love: Current Issues of Couple Relationship”
  • 2016 – Februari: Academic Discussion – “Memahami dan Menangani Kegalauan Remaja
  • 2015 – November: ICA Members’ Gathering – “Drafting ICA’s Roadmap to being Legal as Association”
  • 2014 – Oktober: Seminar – “Counseling in the Developing Countries”
  • 2014 – Juni: Academic Discussion – “Counseling: Challenges & Opportunity”
  • 2014 – Maret: ICA Cares to the Elders – “Penuaan: Siapa Takut?”
  • 2013 – Desember: – ICA – APACS Goodwill Visit at Universitas Pelita Harapan

Juni 2018: Seminar “Coping with Life Journey”

Pada tanggal 2 Juni 2018, ICA berkolaborasi dengan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) mengadakan seminar & workshop yang bertema “Coping With Life Journey”, dengan mengundang 3 pembicara dari APACS (Association of Psychotherapists and Counsellors Singapore) dan 1 pembicara lokal.

WhatsApp Image 2018-06-02 at 2.07.16 PM-2.jpegSeminar pertama dibawakan oleh Mr. Sim Kwang Mong, M.Counseling. Kemudian dilanjutkan oleh Bp. Evans Garey, M.Si. Setelah itu dilakukan seminar parallel, di mana peserta dapat memilih antara sesi yang dibawakan oleh Dr. Po Gim Tee Jeffrey, PhD atau Mrs. Jeslyn Lim, B.A., M.Ed.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, dan banyak peserta yang mengajukan pertanyaan serta terlibat dalam sesi workshop, seperti misalnya menerapkan proses meditasi dalam sesi yang dibawakan Dr. Jeffrey mengenai Mindfulness.

 

 


Agustus 2018: Academic Discussion “My Friend has Depression: What Should I do?”

Di tahun 2018, ICA kembali mengadakan academic discussion yang kedua pada tanggal 25 Agustus 2018 di WINC Collaborative Space & Cafe, Gading Serpong, yang difasilitasi oleh Sdri. Wiwit Puspitasari, M.Psi., Psikolog.

Diskusi berlangsung selama hampir 2 jam, dengan beberapa insight baru yang didapat seperti:

  • Banyaknya kasus depresi saat ini yang terjadi sejak usia muda (bahkan sejak SD-SMP)
  • Orang tua menjadi sangat prihatin terhadap anaknya yang berteman dengan penderita depresi
Beberapa tips yang akhirnya disepakati dapat menjadi bantuan terbaik sebagai teman yang memiliki saudara/kerabat yang mengalami depresi, seperti:
  • Tetap menjadi teman. Jika ada teman yang depresi dan menceritakannya, justru tandanya orang tersebut percaya dan mencari pertolongan. Karena itu, perlu untuk tetap membina hubungan dengan mereka dan memberikan dukungan.
  • Cari bantuan profesional. Depresi adalah kasus klinis yang perlu penanganan profesional. Ajak teman untuk pergi ke psikolog/psikiater/konselor untuk mendapatkan bantuan.
  • Take care of yourself.
  • Membuat tim – dalam menolong orang yang depresi, tidak bisa sendirian. Kita juga membutuhkan tim untuk dapat mendukung kita. Bagi siswa remaja, khususnya, tim itu bisa saja terdiri dari orang tua, guru di sekolah, maupun konselor sekolah. Orang dewasa (khususnya orang tua) tetap perlu dilibatkan.

WhatsApp Image 2018-08-25 at 2.28.56 PM


Maret 2018: Academic Discussion “Handling Personal Problems in Healthy Ways”

Di tahun 2018, ICA mengadakan academic discussion yang pertama di tanggal 3 Maret 2018, bertempat di Universitas Krida Wacana (UKRIDA), dan difasilitasi oleh Sdri. Antania Djuwita, S.Psi.

Sesuai dengan temanya: “Handling Personal Problems in Healthy Ways”, diskusi ini membahas bagaimana para praktisi di bidang Psikologi menjaga kondisi psikologis pribadinya. Pertanyaan yang dibahas selama diskusi berlangsung antara lain:

  1. Mengapa saat ini orang- orang cenderung untuk memposting masalah mereka di sosial media?
  2. Apa sebenarnya esensi dari tindakan mereka tersebut?
  3. Apakah tindakan tersebut sudah tepat? Mengapa? Jika tidak, bagaimana seharusnya?
  4. Mengapa masalah perlu diselesaikan atau diatasi dan bukan untuk sekedar dipublikasi/ diumbar di sosial media?
  5. Seringkali banyak orang hanya perlu didengar atau mendapat perhatian khusus saat sedang mengalami masalah, tetapi apakah sebenarnya masalahnya sudah teratasi?

Satu alasan yang dianggap paling kuat mempengaruhi orang untuk memposting masalah di sosial media adalah sebagai salah satu bentuk penyampaian emosi (emotional release) tanpa harus menunjuk kepada satu orang tertentu (implisit). Sebenarnya, ada beberapa pilihan cara untuk mengatasi masalah pribadi yang lebih positif dibandingkan mempostingnya di sosial media. Cara- caranya antara lain: mengambil waktu sejenak untuk berpikir mengenai akar permasalahan yang sebenarnya, berkonsultasi dengan orang yang tepat atau dapat dipercaya, relaksasi dengan latihan fisik (exercise) ataupun meditasi.

Dihadiri oleh partisipan dari berbagai latar belakang seperti, pendidikan, konseling dan juga mahasiswa, acara diskusi ini menjadi sangat kaya akan opini dari beberapa sudut pandang. Senada dengan judul dari diskusi akademik ini, maka masing- masing dari partisipan terbuka akan pengalaman dan masalah pribadinya, sehingga bukan hanya menjadi momen untuk menambah wawasan, tetapi juga bertukar pikiran dan saling mendukung satu sama lain.

foto.jpeg


Desember 2017: The 5th Asia Pacific Rim International Counselors and Psychotherapists

IMG_0041Asia Pacific Rim International Counselors and Psychotherapists Conference 2017 yang ke-5 telah berhasil diselenggarakan pada tanggal 1-3 Desember 2017 di Max Atria, Singapura. Dalam acara ini, Indonesian Counseling Association (ICA) merupakan salah satu partner resmi penyelenggara. Terdapat ratusan delegasi dari lebih dari 19 negara yang berpartisipasi dalam konferensi ini. Ketua ICA, Dr. Evans Garey, mempresentasikan pemikirannya tentang “Religion and Hope in Human Thriving”, sebagai salah satu keynote speaker dari acara ini.

Dalam kesempatan yang sama, Karel Karsten Himawan, sebagai wakil ketua ICA, juga mempresentasikan hasil kajian literaturnya mengenai dewasa muda yang hidup melajang. Presentasinya berjudul “I Need Thee Every Hour: the Roles of Religiosity to the Well-Being of Single Adults in Indonesia.”IMG_0161Selain presentasi oral, konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini juga merupakan ajang berjejaring yang sangat efektif, terutama dengan para anggota dan pimpinan asosiasi konseling di berbagai negara, termasuk: American Counseling Association, Australian Counseling Association, Association of Psychotherapists and Counselors in Singapore, Philippine Guidance and Counseling Association, dan beberapa asosiasi konselor dan psikolog dari negara Asia lainnya.


Maret 2017: Academic Discussion – “Life after College”

Ke mana setelah lulus kuliah?

Ada yang berbeda dengan masa lulus kuliah dibandingkan dengan lulus SMP atau SMA. Itu sebabnya banyak orang menganggap hidup yang sebenarnya baru dimulai sejak lulus kuliah.

Hadirilah sesi diskusi dengan tema “Life After College” yang merupakan program Academic Discussion khusus untuk mahasiswa, terselenggara berkat kerja sama antara ICA dengan HMF Psikologi Universitas Pelita Harapan.

life after college.jpg.png


Maret 2017: Seminar – “Suicide is not an Option”

Pada kesempatan kali ini, ICA bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan dalam menyelenggarakan rangkaian acara tahunannya. ICA berperan sebagai media partner dalam kegiatan Psychology Village, yang berisi rangkaian kompetisi dan kampanye di bidang psikologi untuk meningkatkan psychological awareness pada masyarakat. Salah satu dari kegiatan yang akan dilaksanakan ialah seminar yang berjudul “Suicide is not an Option”. Pendaftaran terbuka untuk umum dan sangat direkomendasikan bagi anggota ICA. Informasi lengkap mengenai acara ini dapat dilihat pada poster berikut.

Unknown.jpg


November 2016: Academic Discussion – “Work-Life Balance”

Academic Discussion kali ini difasilitasi oleh Bapak David Matahari, M.Sc., dengan topik work-life balance. Kegiatan diselenggarakan di Lotte Shopping Avenue, bekerja sama dengan Klinik Ciputra. Para peserta mendiskusikan bagaimana dinamika pekerja di Indonesia, khususnya yang terkait dengan aspek psikologi.

Dalam acara ini, juga diperkenalkan portal web psikologi.info di mana anggota ICA berkesempatan untuk mendaftarkan kegiatan praktik konselingnya secara gratis di portal tersebut.

Unknown2-2.jpg


Agustus 2016: One Day Seminar – “Unmasking Love: Current Issues of Couple Relationship”

Unmasking Love

Acara ICA kali ini menghadirkan empat pembicara dari Indonesia dan Singapura untuk mengupas tentang berbagai hal penting dalam menjalin hubungan romantis dengan orang lain.

Acara ini diselenggarakan pada tanggal 6 Agustus 2016 di The Agathon Serenade Center, Gading Serpong – Tangerang. Dalam acara yang terbuka untuk umum ini, juga diselenggarakan  free assessment untuk membantu refleksi diri dalam memahami kualitas diri dan kualitas hubungan yang sedang dijalani (baik berpacaran maupun menikah).

Dari rangkaian acara seminar ini, terdapat satu sesi perkenalan ICA untuk memberikan informasi kepada partisipan tentang ICA dan syarat serta keuntungan bergabung dalam keanggotaan ICA.

Acara ini menandai pertama kalinya ICA menerima pendaftaran anggota setelah ICA mendapat pengesahan hukum sebagai asosiasi. Terima kasih untuk semua pihak yang telah berpartisipasi mendukung suksesnya acara ini.

IMG_5484


Februari 2016: Academic Discussion – Memahami dan Menangani Kegalauan Remaja

Academic Discussion yang diadakan pertama kali di tahun 2016 ini mengangkat tema tentang kegalauan remaja serta cara-cara mengatasinya. Fasilitator dalam academic discussion ini ialah Fransisca Sidabutar, M.Psi., Psikolog. Tercatat lebih dari 20 orang dengan berbagai latar belakang keahlian (mulai dari psikolog, konselor, guru BK, hingga mahasiswa) hadir dan berpartisipasi di acara ini.

Acara diselenggarakan pada tanggal 13 Februari 2016 di D’Journal Cafe, Puri Indah Mall. Materi bahasan sangat menarik, mulai dari mendefinisikan apa itu galau serta ketepatannya dengan istilah galau yang biasanya digunakan oleh para remaja, hingga cara-cara yang tepat untuk mengatasi isu-isu tentang kegalauan remaja. Dalam diskusi, beberapa teknik intervensi seperti terapi kelompok, peer counseling, dan support group therapy dipercaya terbukti efektif untuk mengatasi berbagai isu terkait dengan kegalauan remaja.

IMG_8266


November 2015: ICA Members’ Gathering – Drafting ICA’s Roadmap to being Legal as Association

Pada tanggal 28 November 2015, ICA kembali mengadakan pertemuan antar anggota dengan agenda utama untuk mendiskusikan kesiapan ICA menjadi badan hukum yang diakui oleh pemerintah RI. Diskusi bertempat di MOKKA Cafe, Lippo Mall Puri. Semua anggota antusias dan tidak sabar untuk segera bekerja keras mewujudkan ICA sebagai asosiasi yang berbadan hukum sehingga dapat lebih luas lagi dalam mewujudkan visi dan misinya.

Dalam kesempatan ini juga, masing-masing anggota ICA saling mempererat ikatan persaudaraan, berjejaring, dan mendiskusikan berbagai isu terkini terkait perkembangan konseling dan psikoterapi di Indonesia. Keluarga besar ICA juga sangat senang menyambut kehadiran beberapa anggota baru yang siap bergabung dalam pertemuan ini.

IMG_7137


Oktober 2014 – Counseling in the Developing Countries (Seminar)

poster

Konseling merupakan salah satu praktik utama yang mendapat perhatian penting bagi para praktisi kesehatan mental. Beberapa negara membuat pemisahan yang jelas antara praktik psikologi dengan praktik konseling, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Tugas seorang konselor ialah membuat klien memahami persoalan yang dihadapi serta mampu menentukan solusi yang dianggap tepat untuk mengatasi permasalahannya itu. Sementara itu, seorang psikolog berhubungan dengan klien yang jiwanya bermasalah, sehingga akhirnya menciptakan masalah di dalam hidupnya. Oleh karenanya fokus seorang psikolog ialah lebih kepada mengatasi masalah kejiwaan klien, bukan hanya mengatasi masalah klien. Praktik konseling di beberapa negara dianggap vital sehingga dalam rang- ka fungsi pengawasan, dibutuhkan semacam pelatihan dan sertifikasi khusus untuk menjadi seorang konselor. Di Indonesia, sekalipun sertifikasi untuk seorang konselor sudah mulai dirintis, namun dalam praktiknya masih banyak juga para praktisi yang mengaku konselor namun tidak mendapatkan sertifikasi tertentu.

Untuk menambah pengetahuan tentang perkembangan ilmu dan aplikasi konseling di dunia internasional inilah, ICA berinisiatif untuk menyelenggarakan seminar yang dibawakan oleh Philip Armstrong, M.A. (konselor senior serta CEO dari Australian Counselling Association). Seminar diselenggarakan pada:

  • Hari, tanggal : Senin, 27 Oktober 2014
  • Waktu : pk 09.00 – 12.00
  • Tempat : Ruang Auditorium UKRIDA, Gd. E, Lt. 7, Kampus Grogol

IMG_3498


Juni 2014 – Counseling: Challenges & Opportunity (Academic Discussion)

Academic discussion merupakan kegiatan semi formal, yang diselenggarakan dengan tujuan agar dapat saling berdiskusi tentang isu-isu sesuai dengan topik yang diangkat. Siapapun bebas bergabung dalam kegiatan ini. Acara ini gratis, namun tidak mencakup biaya konsumsi. Guna pendataan serta penyebaran informasi terbaru seputar kegiatan ini (termasuk kepastian tempat pertemuan nantinya), rekan-rekan yang berminat hadir mohon dapat mendaftarkan diri ke Eunike (0812 987 222 40) atau melalui email ke contact.ica1@gmail.com, dengan menyertakan nama serta nomor handphone

Hari/ tanggal  : Jumat, 20 Juni 2014

Waktu              : Pk.17.00- selesai

Tempat           : Pizza Hut, Puri Indah Mall (Jakarta Barat) (tentatif)

Topik               Counseling-Opportunity and Challenges

Diskusi akan difasilitasi oleh Bpk. Denny Putra, M.A. (dosen bidang konseling di Fakultas Psikologi, UKRIDA) yang meliput 3 hal  :

  • Target Konseli – “Konseli: Si sakit? Si sehat yang sedang sakit? Atau si sakit yang terlihat sehat?”: siapa saja individu maupun komunitas yang ada di sekitar kehidupan kita yang membutuhkan pelayanan konseling serta permasalahan yang sering muncul.
  • Produk konseling – “Konseling & Teknologi” : bentuk layanan konseling maupun materi yang dapat ditawarkan kepada konseli.
  • Peranan konselor dari masa ke masa : sebagai ilmuwan dan praktisi dalam bidang kesehatan mental dan konseling.

Maret 2014 – ICA Cares to the Elders (Penuaan: Siapa Takut?)

Pada bulan Maret 2014, ICA mengunjungi berbagai komunitas lanjut usia yang tersebar di Jakarta dan Tangerang. Dalam kunjungan tersebut, sebagai wujud pelayanan sosial, ICA akan melakukan pemeriksaan kondisi mental gratis kepada para lanjut usia. Kondisi mental yang akan diperiksa meliputi: keberfungsian kognitif, indikasi berbagai gangguan memori (alzheimer, demensia vaskuler, dan jenis lainnya), dan indikasi gejala psikologis lain (depresi, psikotik, dan lain-lain). Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memberikan gambaran bagi keluarga maupun pengurusnya (caregiver) agar dapat memberikan penanganan yang sesuai. 

IMG_2332


Desember 2013 – ICA – APACS Goodwill Visit at Universitas Pelita Harapan

Seminar yang diselenggarakan bekerja sama dengan Fakultas Psikologi – Universitas Pelita Harapan, Regional Human Skills, Association of Psychotherapists and Counselors in Singapore (APACS), dan Experiencing Life Foundation (ELF) merupakan wujud kegiatan kerja sama perdana antara ICA dengan APACS. Seminar dihadiri oleh lebih dari 60 peserta dan mahasiswa, melebihi rencana awal yang hanya 30 peserta saja. Pembicara dalam seminar ini ialah Dr. Jeffrey Po, Mr. Harold Tan, Mrs. Karen Sng, Ms. Abigail Lee, dan Ms. Ellis Lee.

Seminar diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UPH, Yonathan Aditya, Ph.D. Selanjutnya, masing-masing pembicara menyampaikan pengalamannya sesuai dengan topik yang mereka bawakan, yakni:

  • Detoxification of Alcohol Substance Abuse by the Elderly – oleh Mr. Harold Tan,
  • The Significance of Control for the Elderly – oleh Dr. Jeffrey Po,
  • Sand and Art as Occupational Therapy for the Elderly – oleh Ms. Abigail Lee,
  • Palliative Care of the Elderly – oleh Mrs. Karen Sng,
  • Mental Resilience and Coping Skills by the Elderly – oleh Ms. Ellis Lee.

Peserta tampak antusias mengikuti seminar dan mengajukan beberapa pertanyaan. Seminar diakhiri dengan pengalaman dari tim APACS mengenai pentingnya asosiasi dalam psikologi, serta perkenalan inisiasi dari Indonesian Counselling Association sebagai wadah yang rencananya akan didirikan untuk membina jaringan profesional antar praktisi kesehatan mental di dalam dan luar negeri.

Terima kasih kepada seluruh pihak, pembicara, panitia, dan peserta yang turut berkontribusi demi terselenggranya acara ini.

Goodwill Visit ICA - APACS

IMG_0041.JPG